GARDANAS
GARDANAS adalah wadah agung yang menjadi tempat bagi kembali tumbuhnya hakikat dasar manusia sejati Indonesia.
GARDANAS diarahkan untuk mencetak pribadi-pribadi Indonesia yang memiliki kesejatian jiwa Indonesia, sehingga putra-putra Ibu Pertiwi memiliki keyakinan dengan segenap jiwanya.
Kebanggaan menjadi manusia Indonesia merupakan anugerah yang patut disyukuri dan dapat digunakan sebagai modal untuk menjadikan mental Indonesia sebagai mental pengelola kebijakan dunia.
Membangun Mental Indonesia
Menjadikan mental Indonesia sebagai mental pengelola kebijakan dunia dan merevitalisasi semangat nasionalisme Indonesia.
Garda Nasional mempunyai tujuan mencapai Negara Indonesia yang kuat, bermartabat dan terhormat.
Garda Nasional juga mempunyai fungsi melakukan dan membangun kemitraan dengan seluruh elemen masyarakat, baik di tingkat pusat maupun daerah, dengan dasar gotong royong.
GARDANAS hadir untuk merevitalisasi semangat kebangsaan dan menjadikan JARIIBU sebagai solusi, sekaligus melakukan upaya-upaya pencerahan mengenai agenda JARIIBU yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.
Latar Belakang Masalah
Pada awal kemerdekaan hingga era pertengahan 1980-an, Indonesia tercatat sebagai salah satu pelopor kebangkitan industri di Asia.
Dasar-dasar nasionalisme yang memuncak pada masa revolusi fisik dan diperkaya di era pemerintahan Bung Karno diejawantahkan melalui GBHN dan REPELITA pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Untuk mempercepat pertumbuhan industri nasional, pemerintah membentuk berbagai kebijakan dan ratusan BUMN sebagai agen pembangunan.
Hasilnya, ekonomi nasional berhasil tumbuh dengan pesat hingga menjadi perhatian dan percontohan dunia internasional dan kawasan regional.
Sayangnya, dasar-dasar pembangunan industri nasional tersebut umumnya gagal di tengah jalan karena lemahnya implementasi aturan-aturan jangka panjang dan mulai lunturnya semangat menjaga arah pembangunan industri nasional.
Pertumbuhan ekonomi meningkatkan taraf hidup rakyat, tetapi pada saat yang sama terjadi peningkatan konsumsi nasional yang sangat tajam.
Pemerintah, pengusaha dan rakyat mulai lengah terhadap pentingnya ketahanan industri dan teknologi.
Target pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya didukung oleh kekuatan industri nasional perlahan bergeser pada peningkatan konsumsi masyarakat.
Arus investasi kemudian lebih banyak dialokasikan pada sektor jasa dan perdagangan dibandingkan peningkatan produksi.
Inkonsistensi kebijakan pembangunan industri nasional secara perlahan mulai menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa.
Puncak kemunduran industri nasional terjadi melalui krisis ekonomi yang dimulai pada pertengahan tahun 1997.
Kondisi Industri Nasional
Indonesia kemudian berkembang menjadi bangsa yang sangat konsumtif.
Dari sisi masyarakat terjadi degradasi mental yang ditandai dengan makin merosotnya kreativitas dan produktivitas kerja serta berkembangnya pola hidup materialistik dan konsumtif.
Dari sisi pengusaha dan industri, lemahnya nasionalisme dan kesetiakawanan sosial menyebabkan kecenderungan mencari jalan pintas untuk memperoleh keuntungan maksimal dalam jangka pendek.
Nasionalisme Melemah
Lunturnya rasa kebanggaan terhadap produk dan kemampuan bangsa sendiri.
Ketergantungan
Ketergantungan yang besar terhadap produk, teknologi dan kepentingan dari luar negeri.
Teknologi Tertinggal
Rendahnya penguasaan teknologi industri menjadi persoalan penting dalam kemandirian bangsa.
Industri Nasional Lemah
Lemahnya industri nasional berdampak pada ekonomi, tenaga kerja dan daya tawar bangsa.
Jumlah penduduk yang besar tidak cukup hanya ditopang oleh eksploitasi sumber daya alam, industri kerajinan dan industri teknologi rendah.
Diperlukan pemberdayaan seluruh potensi bangsa melalui akselerasi pembangunan kembali industri nasional agar mampu mengejar ketertinggalan.
Dasar Pemikiran
Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar dengan wilayah yang memiliki kekayaan alam yang besar pula.
Jumlah penduduk yang besar apabila diberdayakan secara maksimal dapat menjadi energi yang luar biasa bagi kemajuan industri.
Jika kekayaan alam dimanfaatkan dan diolah secara efisien dengan sentuhan teknologi yang baik, maka akan menghasilkan nilai tambah yang terus meningkat.
Pengolahan hasil alam untuk mendapatkan nilai tambah maksimal harus dilakukan di Indonesia dan oleh orang Indonesia sendiri.
Kemandirian
Kekayaan alam, manusia, teknologi dan nasionalisme perlu disatukan menjadi kekuatan pembangunan industri nasional.
Pelajaran dari Revolusi Industri
Kemajuan ekonomi Eropa dimulai melalui momentum besar yang populer disebut Revolusi Industri.
Perubahan tersebut membawa pergeseran ekonomi dari sektor agraris menuju sektor industri dan meningkatkan kebutuhan bahan mentah serta pasar.
Pengalaman Jepang menunjukkan bagaimana nasionalisme, kerja keras dan kebijakan pemerintah yang pro rakyat dapat mendorong perubahan dari negara agraris menuju negara industri.
Korea Selatan juga menjadi contoh bahwa dukungan rakyat, pengusaha dan pemerintah terhadap produk nasional dapat membangun industri yang kuat dan mampu bersaing secara internasional.
Indonesia dan Penguasaan Teknologi
Kemandirian ekonomi bangsa semakin jauh apabila produksi masyarakat rendah dan penguasaan teknologi industri tertinggal.
Krisis industri, teknologi dan kepercayaan diri bangsa perlu segera diatasi.
Penyelesaiannya tidak dapat dilakukan pemerintah seorang diri, tetapi harus melibatkan pengusaha dan masyarakat secara bersama-sama melalui konsensus kebangkitan industri nasional.
Teknologi merupakan alat ekonomi yang sangat penting bagi negara untuk terus hidup dan berkembang.
Teknologi juga merupakan alat utama dalam pertahanan negara serta alat tawar yang kuat dalam pergaulan politik internasional.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Kekayaan tersebut harus diolah sendiri melalui keunggulan industri dan semangat nasionalisme yang tinggi.
Resolusi Industri Nasional
Sudah saatnya pasar domestik yang besar dikuasai oleh produk lokal dan perusahaan nasional mampu merebut kembali pasar dalam negeri sekaligus bersaing di pasar internasional.
Dalam dokumen ini, semangat tersebut digambarkan melalui istilah “MESTAKUNG” — Semesta Mendukung.
Dukungan kuat dari berbagai pihak merupakan harapan bagi tumbuh dan berkembangnya industri nasional, terutama pemerintah, industriawan, teknokrat, mahasiswa dan masyarakat luas.
Upaya tersebut harus dilakukan secara keras, terukur dan berkesinambungan dengan mempropagandakan, mengkampanyekan serta mengutamakan penggunaan produk industri nasional kapan saja dan di mana saja.
Momentum Kebangkitan Industri
Untuk membangkitkan kembali industri nasional, diperlukan energi yang besar dan berkesinambungan agar mampu mengatasi persoalan-persoalan mendasar yang menghambat.
Diperlukan sebuah momentum resolusi yang besar untuk mendorong pergerakan ekonomi nasional menuju kemandirian yang bermartabat.
Resolusi Industri Nasional dimaksudkan untuk menyinergikan seluruh komponen bangsa dalam suatu kesatuan pendapat mengenai perbaikan, progresivitas dan keberlanjutan industri nasional.
Momentum resolusi saja tidak cukup. Ia harus diikuti dengan dukungan cepat melalui kebijakan-kebijakan lanjutan pemerintah yang progresif.
Kepentingan Nasional
Perbaikan dan perubahan perlu dilakukan dengan tujuan yang sama: kejayaan bangsa dan negara melalui keunggulan industri dan teknologi, dengan kepentingan nasional sebagai acuan utama.
Akar Permasalahan
Dokumen GARDANAS mengidentifikasi sejumlah persoalan yang menjadi penghambat kebangkitan industri nasional.
Hambatan Psikologis
Turunnya nilai patriotisme dan nasionalisme, serta rendahnya partisipasi dan penghargaan terhadap produk bangsa sendiri.
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan dan respons yang kurang cepat serta masih bersifat parsial dalam pengembangan ekonomi berbasis industri.
Hukum & Birokrasi
Rendahnya penegakan hukum dan buruknya kinerja birokrasi menjadi persoalan yang perlu diperbaiki.
Kepentingan Kelompok
Kepentingan individu dan kelompok dalam pembuatan kebijakan industri nasional dapat mengurangi orientasi kepentingan bangsa.
Pendidikan dan Teknologi
Pendidikan merupakan alat utama dalam penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi tidak mungkin tercapai tanpa pendidikan yang memadai.
Karena itu diperlukan korelasi antara kebijakan pendidikan nasional dengan arah pertumbuhan industri dan kemajuan teknologi nasional.
Pola Hidup Konsumtif
Pola hidup konsumtif yang terus berkembang dipandang dapat memperparah perekonomian masyarakat dalam jangka panjang karena berkurangnya modal-modal nasional.
Langkah Awal GARDANAS
Resolusi Industri Nasional ditempatkan sebagai langkah awal, rujukan dan kepastian politik dalam proses kebangkitan ekonomi bangsa.
Kebangkitan emosional rakyat untuk mencintai produk industri nasional dipandang sebagai modal yang besar bagi pembangunan perekonomian bangsa.
Dengan Resolusi Industri Nasional, cita-cita para leluhur yang sempat tertunda diharapkan dapat diwujudkan kembali melalui semangat, kerja keras dan keberpihakan terhadap produksi nasional.
GARDANAS Untuk PROSOLUSI
GARDANAS ditempatkan sebagai alat untuk mencapai wujud nasionalisme Indonesia yang sejati.
Nasionalisme Indonesia yang sejati dipandang sebagai inspirasi bagi karakter internasionalisme sejati, yaitu karakter menuju perdamaian dunia yang abadi.
GARDANAS juga menopang gagasan bahwa setiap bangsa memiliki hak akan kemerdekaan sesuai dengan yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Bangunlah Jiwa GARDANAS Indonesia!
Kesadaran nasional, karakter Indonesia, nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia Manusia Sejati.
Menuju Indonesia Manusia Sejati
GARDANAS merupakan bagian dari perjalanan JALAN RESOLUSI INDONESIA BARU.
Bersama MENDAKI dan INANIA, GARDANAS ditempatkan sebagai salah satu azimat dalam perjalanan menuju cita-cita Indonesia Manusia Sejati.
Semangat kebangsaan, penguasaan industri dan teknologi, serta kesadaran untuk membangun kekuatan nasional menjadi bagian penting dari konsepsi GARDANAS.
Dengan semangat tersebut, GARDANAS diarahkan untuk menjadi bagian dari upaya membangun Indonesia yang kuat, bermartabat dan terhormat.